Perjalanan itu terjadi di kereta malam menuju Jakarta. Saya naik dari Stasiun Kutoarjo, setelah mendaki Gunung Sindoro, hari sebelumnya. Badan masih terasa lelah, tapi rasanya menyenangkan bisa kembali ke rutinitas. Di gerbong yang cukup ramai malam itu, saya duduk di kursi aisle gerbong.
Di sebelah saya duduk seorang wanita muda, mungkin baru lulus kuliah. Rambutnya diikat sederhana. Dari logatnya, saya tahu ia orang Jogja. Awalnya kami tidak bicara apa pun. Saya hanya mengangguk kecil saat ia duduk, lalu kembali menatap keluar jendela.
Ia bercerita banyak hal. Tentang proses melamar kerja yang panjang dan tentang harapan bisa segera kerja. Saya mendengarkan sambil sesekali menimpali. Tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk menghormati obrolan.
Saat itu saya memang tidak sedang mencari topik. Kepala saya sudah berat, tubuh rasanya ingin rebahan. Jadi setelah beberapa kalimat pendek, saya memejamkan mata sebentar. Ia paham, dan obrolan pun berhenti di situ.
Saya tidak tahu berapa lama tertidur. Ketika terbangun, kereta sudah melewati Karawang. Langit di luar mulai abu-abu, tanda subuh hampir datang. Wanita di sebelah saya juga sudah terbangun. Ia menegakkan duduknya, menarik napas panjang, lalu menatap ke luar jendela.
Kami berbincang sebentar lagi. Bukan obrolan penting. Hanya soal waktu tiba, soal macet di Jakarta pagi hari, dan soal bagaimana ia berencana langsung ke tempat wawancara dari stasiun.
Saya hanya mengangguk, lalu melangkah ke arah lain. Tidak ada momen berkesan, tidak ada kalimat panjang yang menempel di kepala. Tapi seperti kebanyakan pertemuan yang hanya terjadi sekali, tetap saja ada sesuatu yang tersisa bukan karena siapa yang ditemui, tapi karena waktu itu sendiri yang terasa berhenti sebentar.
Epilog
Kalau diingat lagi, semua pertemuan itu sebenarnya biasa saja. Tidak ada yang dramatis, tidak ada yang ingin diulang. Tapi entah kenapa, beberapa di antaranya tetap tinggal di kepala. Mungkin karena terjadi di waktu yang tidak direncanakan, di tempat yang netral, tanpa kepentingan apa pun.
Saya tidak lagi mengingat wajah mereka dengan jelas. Tapi saya masih ingat caranya orang-orang itu berbicara, tertawa, atau sekadar menatap keluar jendela sambil bercerita tentang hidupnya. Semua percakapan itu pendek, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa setiap orang sedang berjuang di jalannya masing-masing.
Dulu saya mungkin hanya menganggapnya sebagai obrolan kecil untuk mengisi waktu. Tapi sekarang, setelah umur bertambah dan hidup berjalan lebih cepat, saya sadar: kadang justru dari obrolan kecil seperti itu, kita belajar banyak hal tentang diri sendiri. Tentang cara mendengar, cara memahami, atau sekadar memberi ruang tanpa perlu menilai.
Dan sebenarnya, masih ada beberapa pertemuan lain yang sempat terjadi. Obrolan di bandara dengan seorang wanita yang hendak terbang ke kota lain. Percakapan singkat di outlet Beard Papa dengan seorang ibu-ibu yang awalnya berebut roti sus, tapi berakhir dengan tawa ringan. Juga obrolan lain yang samar-samar masih saya ingat, tapi sudah tidak utuh lagi dalam ingatan.
Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu orang-orang seperti itu lagi. Tapi mungkin memang begitu caranya hidup bekerja. Kita saling bersinggungan sebentar, lalu melanjutkan jalan masing-masing. Tanpa janji, tanpa pesan, tanpa perlu alasan.
Saya tidak menyimpulkan apa pun dari semua pertemuan itu, hanya merasa semuanya terjadi pada waktunya.
Baca series "Pertemuan Yang Hanya Sekali" lainnya di sini :
0 Comments