Tidak semua cerita harus megah. Yang sederhana pun bisa tinggal lebih lama di hati

– Aspi Yuwanda

#4 Pertemuan yang Hanya Sekali: Calon Doktor di Pesawat ke Jakarta

Saat itu saya sedang dalam perjalanan ke Jakarta, sekitar pertengahann tahun 2016. Di dalam pesawat, saya duduk di kursi dekat jendela. Cuaca di luar cukup cerah, langit biru dengan sedikit awan yang bergerak pelan. Di sebelah saya duduk seorang pria muda, mungkin sekitar tiga puluh lima tahun. Penampilannya rapi, santai, dengan tas kerja kecil di pangkuannya. Ia sibuk membaca beberapa lembar kertas dan sesekali menulis catatan di buku kecil.

Saya tidak mengucapkan apa pun sejak awal. Bukan karena tidak ingin, tapi kalau orang di sebelah tidak memulai duluan, saya lebih memilih diam. Apalagi kalau terlihat sedang sibuk.

Beberapa menit kemudian, orang ini menawarkan saya permen. “Mau, Bro?” katanya sambil tersenyum ramah. Saya tersenyum balik dan menerima. Dari situ, obrolan pun mulai pelan-pelan terbuka.

Ternyata ia seorang dosen muda di salah satu universitas negeri di Pekanbaru. Ia sedang menempuh pendidikan doktor di bidang ilmu pendidikan dan akan ke Jakarta untuk bimbingan disertasi sekaligus menghadiri seminar. “Udah hampir tiga tahun,” katanya. “Tinggal nyelesain disertasi. Kadang semangat, kadang ingin berhenti.”

Saya ikut tersenyum. “Berarti udah mau selesai dong, Bang ?”
“Iya, semoga. Tapi ya, yang paling susah itu bukan nulisnya. Bertahan di tengah keraguan,” katanya sambil tertawa kecil.

Percakapan kami berlanjut santai. Ia bercerita tentang dunia kampus, tentang mahasiswa yang lebih sibuk dengan ponsel daripada buku, dan tentang bagaimana cara belajar sekarang sudah berubah. “Informasi cepat banget datang,” katanya. “Tapi justru karena itu, banyak yang lupa belajar mikir.”

Di tengah obrolan itu, ia sempat menatap saya dan bertanya dengan nada setengah bercanda, “Kamu percaya bumi itu bulat?”
Saya kaget sebentar, lalu tertawa. “Percaya, Bang.”
Ia ikut tertawa. “Syukurlah. Sekarang di kampus aja masih ada yang percaya bumi datar. Saya kadang bingung harus mulai jelasin dari mana.”

Kami tertawa bersama, tapi ia melanjutkan dengan nada lebih serius. “Sebenarnya bukan soal teori bumi datar atau bulat. Tapi soal gimana orang bisa percaya pada sesuatu tanpa mau repot mencari tahu. Mungkin itu yang bikin saya terus kuliah sampai sekarang. Saya pengin ngerti kenapa orang bisa berhenti berpikir.”

Saya terdiam sejenak. Kalimat itu sederhana tapi dalam. Obrolan lalu berlanjut ke hal-hal ringan, tentang dosen yang terlalu sibuk, tentang murid yang lebih pintar dalam urusan teknologi, tentang bagaimana belajar itu sebenarnya tidak pernah selesai.

Ia bilang, “Sekarang banyak orang mau cepat. Padahal hal yang cepat biasanya juga cepat hilang.”
Saya mengangguk. Kalimatnya terdengar seperti sesuatu yang baru saja ia temukan sendiri, tapi juga terasa benar.

Menjelang pesawat mendarat, kami sama-sama diam. Ia kembali membuka bukunya, menulis sesuatu dengan pensil mekanik. Saya menatap keluar jendela, melihat gumpalan awan yang berganti jadi warna keemasan. Setelah pesawat berhenti, kami berdiri mengambil barang di kabin. Ia lebih dulu turun, lalu menoleh dan berkata, “Sampai ketemu ya, nanti kita kontak-kontakan.”

Saya tersenyum dan menjawab, “Iya, Bang. Aman.” Padahal kami belum bertukar nomor telepon saat itu. Ha ha

Begitu keluar dari pesawat, saya melihatnya berjalan cepat ke ruang kedatangan, menenteng tas kecil di tangan kiri. Setelah itu saya tidak pernah melihatnya lagi. 

"Bagian dari seri Pertemuan yang Hanya Sekali. Tentang orang-orang yang datang sebentar, tapi membuat kita melihat hidup dari sisi yang berbeda."

0 Comments