Ini adalah tulisan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya.
Hal-hal yang sebelumnya hanya saya tulis, ternyata berlanjut menjadi perjalanan yang saya jalani sendiri.
Perjalanan dimulai dari Jakarta. Kami terbang ke Semarang sekitar pukul 8 pagi, dan tiba kurang lebih satu jam setelahnya. Penerbangan yang singkat, dengan cuaca yang cerah, tanpa banyak hal yang benar-benar terasa berbeda.
Sesampainya di Semarang, kami melanjutkan perjalanan dengan mobil sewaan menuju desa tujuan. Kami berangkat sekitar pukul 10 pagi, dan tiba sekitar setengah 1 siang. Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi tetap terasa cukup panjang, apalagi di bawah cuaca yang cukup terik siang itu.
Di sepanjang perjalanan, saya tidak banyak melihat ke luar. Lebih banyak waktu saya habiskan dengan tidur. Mungkin karena saya memang kurang tidur malam sebelumnya, atau mungkin juga karena saya belum benar-benar menyadari bahwa saya sedang menuju tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya.
Desanya tidak luas. Relatif kecil. Rumah-rumahnya sebagian besar berbentuk joglo, dari kayu jati. Terlihat sudah berdiri cukup lama.
Jalannya tidak ramai. Aktivitasnya juga tidak terburu-buru. Lebih pelan, seperti berjalan dengan waktunya sendiri. Di sela waktu yang berjalan tanpa banyak rencana, saya sempat berkeliling melihat sudut-sudut desa. Tidak ada tujuan khusus, hanya berjalan dan memperhatikan.
Rumah-rumah lama masih banyak berdiri. Bentuknya khas, joglo, dengan struktur yang terasa sudah melewati waktu yang panjang. Tidak semua terlihat terawat sempurna, tapi justru di situ letak rasanya.
Melihat itu, saya sempat berpikir, desa ini bukan sesuatu yang baru. Ada kemungkinan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Mungkin sekitar tahun 1500-an.
Saya kemudian menanyakan hal itu ke mertua saya. Dan ternyata, tidak jauh dari yang saya bayangkan. Desa itu memang sudah ada sejak lama.
Ia lalu bercerita tentang masa kecilnya di sana, sekitar tahun 1960-an sampai 1970-an. Tentang bagaimana kondisi desa waktu itu, bagaimana orang-orang hidup, dan bagaimana semuanya berjalan jauh lebih sederhana dari sekarang.
Jalanannya masih tanah berbatuan. Kalau hujan, hampir tidak bisa dilalui, bahkan untuk sepeda. Banyak hal yang sekarang terasa biasa, dulu tidak selalu mudah untuk dijalani.
Rasa penasaran itu sempat saya lanjutkan dengan mencari tahu dari internet. Saya menemukan bahwa wilayah ini punya keterkaitan dengan Trah Mataram. Selain itu, kabupatennya sendiri sudah berdiri sejak sekitar 300 tahun lalu. Artinya, secara peradaban, tempat ini memang sudah lama ada dan berkembang dalam waktunya sendiri.
Di titik itu, saya sempat berpikir hal lain. Jika memang desa ini sudah ada sejak begitu lama, kenapa bentuknya masih seperti ini. Dalam arti, tidak banyak berubah. Tidak lebih maju dari yang saya bayangkan.
Di sana ada hutan jati. Secara awam, saya sempat berpikir, keberadaan itu seharusnya bisa membawa kesejahteraan untuk warga di sekitarnya. Tapi ternyata, realitanya tidak sesederhana itu.
Mungkin ada faktor lain yang tidak langsung terlihat. Topografinya sendiri terasa datar. Tidak ada gunung yang dekat, tidak juga terlihat sungai besar yang melintasi wilayah itu. Padahal kalau melihat ke belakang, dua hal itu sering jadi penopang perkembangan ekonomi di masa lalu.
Saya tidak tahu pasti jawabannya. Dan saya juga tidak mencoba menarik kesimpulan terlalu jauh. Atau mungkin, tidak semua tempat harus menjadi seperti yang kita bayangkan.
Ada banyak hal yang terasa berbeda. Cara mereka berbicara, cara mereka menyapa, sampai cara mereka diam. Kultur Jawa yang selama ini saya tahu ternyata tidak sesederhana itu. Ada lapisan yang baru terasa ketika kita benar-benar ada di dalamnya, bukan sekadar melihat dari luar.
Di sana, saya sempat mengikuti Shalat Jumat. Khutbahnya menggunakan bahasa Jawa. Saya duduk, mendengarkan, dan mencoba mengikuti sebisanya. Tidak semuanya saya pahami, tapi justru di situ ada pengalaman yang terasa berbeda. Memang tidak semua hal harus dipahami sepenuhnya untuk bisa dijalani.
Hal yang sama juga terjadi saat Shalat Id. Khutbahnya kembali menggunakan bahasa Jawa. Saya kembali berada di posisi yang sama, mendengarkan tanpa benar-benar memahami seluruhnya.
Tapi entah kenapa, itu tidak terasa mengganggu. Seperti sedang berada di tempat yang bukan milik saya sepenuhnya, tapi tetap menerima saya tanpa banyak syarat.
Anak saya untuk pertama kalinya bertemu Mbah Buyutnya, ibu dari mertua saya. Momen yang terlihat sederhana, tapi terasa cukup panjang kalau dipikirkan. Hal kecil yang mungkin akan terlupakan nanti, tapi untuk sekarang, terasa cukup berarti.
Empat hari di sana berjalan tanpa banyak rencana. Tidak ada agenda khusus, tidak ada tempat yang harus didatangi. Lebih banyak waktu diisi dengan hal-hal sederhana. Duduk, makan, ngobrol, lalu diam.
Saya sempat berkeliling ke Purwodadi, ibu kota kabupaten dari desa tersebut. Kotanya tidak besar. Masih banyak rumah lama yang berdiri. Tidak semuanya berubah. Dari situ, terasa bahwa daerah ini memang sudah lama ada.
Dibandingkan dengan tempat kampung saya di Bangkinang sana, rasanya Purwodadi sedikit lebih maju. Beberapa tempat seperti Kopi Kenangan atau Pizza Hut sudah ada di sini. Hal yang belum saya temui di sana.
Setelah itu, perjalanan berlanjut ke Jogjakarta. Dari Purwodadi, kami menuju Solo terlebih dahulu. Perjalanan yang seharusnya sekitar dua jam, kali ini hampir empat jam karena macet. Dari Solo, kami lanjut menggunakan KRL. Suasananya tidak jauh berbeda dengan Jakarta.
Ini menjadi kunjungan kedua kami. Tahun 2024 sebelumnya, anak saya masih berusia sekitar 2,5 tahun.
Sekarang usianya 4 tahun. Ia terlihat lebih menikmati perjalanan, dan lebih mengerti apa yang dilihatnya. Melihat itu, ada sesuatu yang terasa berubah, meskipun tidak terlalu disadari.
Setelah 3 hari, kami kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang kami tempuh dengan kereta sore dari Jogjakarta.
Sepanjang perjalanan, saya tidak tidur. Ada beberapa hal yang saya lakukan. Menyelesaikan series One Piece yang sempat tertunda, menonton YouTube, dan sesekali mencoba merangkai ingatan dari perjalanan ini.
Anak saya justru tidur hampir sepanjang perjalanan. Ia mulai terlelap sekitar satu jam setelah kereta berjalan. Di antara itu, waktu berjalan seperti biasa.
Kami tiba di Jakarta tengah malam. Suasananya langsung berubah. Lebih ramai, lebih cepat, dan kembali ke ritme yang sudah lama dikenal.
Mengunjungi tempat yang sebelumnya belum pernah saya datangi, selalu memberi rasa yang berbeda. Bukan karena tempatnya semata, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan.
Tidak banyak yang benar-benar ingin saya ingat secara khusus. Tapi beberapa hal tetap ada, meskipun tidak selalu bisa dijelaskan.
Perjalanan kali ini sudah selesai. Saya tidak membawa banyak hal, tapi rasanya tidak benar-benar kosong.
"Saya tidak membawa banyak hal dari perjalanan kali ini. Tapi rasanya tidak benar-benar kosong"
Jakarta, 26 Oktober 2026
Aspi Yuwanda

