Tidak semua cerita harus megah. Yang sederhana pun bisa tinggal lebih lama di hati

– Aspi Yuwanda

Tahun MMXIX.

Saya tidak tahu apakah ini kebetulan atau bukan, tetapi beberapa bulan terakhir saya cukup sering bertemu dengan hal-hal dari masa lalu. Kadang dalam bentuk ingatan, kadang dalam bentuk kebiasaan yang kembali saya lakukan, dan kali ini dalam bentuk foto lama yang sudah bertahun-tahun tidak saya lihat lagi.

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirimkan sebuah foto lama ke grup pertemanan yang berisi orang-orang yang sudah saya kenal belasan tahun. Foto sekitar tujuh tahun yang lalu. Saya sempat kaget, bukan karena melihat diri saya yang lebih muda, tetapi karena ternyata masih ada yang menyimpan foto tersebut sampai sekarang. Jujur saja, saya bahkan sudah lupa foto itu pernah ada.

Saya memperhatikan foto itu beberapa saat. Melihat wajah-wajah yang ada di dalamnya dan mencoba mengingat kembali periode ketika foto itu diambil. Anehnya, yang muncul bukan ingatan tentang hari itu. Justru cara saya memandang hidup pada masa tersebut.

Mungkin pada masa itu, saya belum terlalu sering dibuat bingung oleh hidup. Saya masih percaya bahwa arah memiliki hubungan yang cukup dekat dengan tujuan. Bahwa sesuatu yang terlihat sedang bergerak ke satu tempat, pada akhirnya memang akan sampai ke sana. Setidaknya begitu yang saya pikirkan saat itu.

Belakangan saya mulai sadar bahwa hidup ternyata tidak bekerja dengan cara yang terlalu sederhana. Ia tidak selalu mengikuti arah yang terlihat. Ia juga tidak merasa perlu memberi penjelasan ketika sesuatu berubah menjadi sesuatu yang lain. Sebagian hal datang, berjalan cukup jauh, lalu berhenti tanpa merasa wajib menjelaskan alasan di baliknya.

Meski begitu, manusia tetap suka berpikir bahwa ia memahami apa yang sedang terjadi. Sedikit kemajuan dianggap pertanda. Sedikit kemudahan dianggap konfirmasi. Sedikit kesamaan dianggap petunjuk bahwa semuanya sedang bergerak menuju tempat yang tepat. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, mungkin kita memang terlalu percaya diri untuk ukuran makhluk yang bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan.

Mungkin itu yang saya rasakan saat melihat foto tersebut. Bukan rindu. Bukan juga penyesalan. Hanya perasaan aneh ketika melihat seseorang yang begitu yakin terhadap hidup yang sedang dijalaninya, sementara saya yang berdiri hari ini sudah tahu bahwa banyak hal setelah itu ternyata berjalan dengan cara yang berbeda.

Saya tidak akan bohong. Pikiran itu sempat muncul. Hanya sebentar. Pertanyaan yang mungkin sesekali mampir ketika seseorang tanpa sengaja bertemu lagi dengan sepotong masa lalunya sendiri.

Bagaimana kalau...

Tapi tidak lama.

Karena seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya usia, saya mulai belajar bahwa tidak semua pertanyaan harus diikuti sampai selesai. Tidak semua pintu perlu dibuka hanya karena kita tahu pintu itu pernah ada. Sebagian cukup dilihat dari kejauhan, lalu diteruskan saja perjalanan kita.

Lagi pula, hidup saya hari ini baik-baik saja. Bahkan lebih dari itu. Saya memiliki banyak hal yang dulu hanya saya bayangkan dari kejauhan. Saya memiliki kehidupan yang saya syukuri, keluarga yang saya cintai, dan berbagai cerita yang bisa saja tidak akan ada jika jalan yang saya tempuh berbeda.

Maka mungkin tidak adil jika saya menukar semua itu hanya untuk memikirkan sebuah kemungkinan yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Pada akhirnya, foto itu tetap hanya sebuah foto. Ia menyimpan sebuah momen, bukan sebuah kehidupan. Dan semakin lama saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa yang saya lihat bukanlah masa depan yang hilang. Hanya sebuah jalan yang tidak jadi saya lalui. Lalu tahun demi tahun berlalu, dan saya sampai di tempat saya berada hari ini.


Jakarta, 1 Juni 2026

0 Comments