Ini adalah bagian terakhir dari series Kehilangan Yang Datang Lebih Awal. Setelah mendengar semua cerita itu malam tersebut, saya mulai sadar kalau beberapa orang ternyata menjalani fase paling berat dalam hidupnya tanpa benar-benar punya waktu untuk berhenti dan merasa hancur. Semuanya terus berjalan. Hari terus berganti. Dan di tengah hidup yang perlahan berantakan, mereka tetap dipaksa bangun setiap pagi seperti tidak terjadi apa-apa.
Ia bilang menjelang persalinan, keadaan rumah tangganya sudah semakin jauh dari kata baik-baik saja. Pertengkaran masih terus terjadi. Hubungan mereka juga semakin terasa dingin. Bahkan menurut ceritanya malam itu, ada masa di mana rumah terasa lebih seperti tempat singgah dibanding tempat pulang.
Saya sempat diam waktu mendengar bagian itu.
Karena semakin dewasa saya mulai sadar kalau ada banyak orang yang tetap tinggal di dalam hubungan bukan karena masih bahagia, tapi karena hidup kadang memang tidak sesederhana pergi lalu semuanya selesai begitu aja.
Ia bilang waktu akhirnya melahirkan, suaminya tidak ada di sana.
Kalimat itu keluar pelan seperti bagian lain dari cerita yang selama ini sudah terlalu sering ia simpan sendiri. Tidak ada nada marah. Tidak ada usaha membuat siapa pun merasa kasihan. Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.
Karena saya membayangkan seorang perempuan yang sedang menunggu proses persalinan, membawa rasa takutnya sendiri, rasa sakitnya sendiri, tapi di saat yang sama juga harus menerima kenyataan kalau orang yang seharusnya ada di sampingnya malah tidak benar-benar hadir di momen itu.
Beruntungnya, ia bilang keluarganya ada dan sangat peduli.
Dan entah kenapa bagian itu sangat melegakan untuk saya dengar malam itu.
Karena di tengah cerita tentang rumah tangga yang perlahan habis, tentang pertengkaran, tentang rasa takut, dan tentang hubungan yang makin terasa asing, masih ada orang-orang yang tetap tinggal dan berusaha menjaga dirinya tetap kuat.
Kadang hidup memang seperti itu. Di saat satu tempat perlahan kehilangan rasa amannya, tempat lain justru diam-diam berusaha menjadi penyangga supaya seseorang tidak benar-benar jatuh sendirian.
Ia cerita kalau keluarganya banyak membantu selama masa-masa itu. Menemani proses persalinan. Membantu mengurus anaknya setelah lahir. Bahkan tetap ada di dekatnya ketika hidupnya mulai berubah terlalu cepat dalam waktu yang hampir bersamaan.
Lalu ia mulai cerita tentang hari ketika suaminya meninggal.
Menurut ceritanya, beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi, suaminya memang sudah tidak pulang ke rumah. Tidak ada kabar yang benar-benar jelas. Sampai suatu sore, di tengah hari yang awalnya terasa biasa aja, ia mendapat telepon dari seorang perempuan yang tidak terlalu ia kenal.
Perempuan itu yang memberi tahu kalau suaminya meninggal karena kecelakaan.
Saya sempat diam cukup lama waktu mendengar bagian itu.
Karena entah kenapa, di titik itu semuanya terasa semakin rumit untuk dijelaskan hanya dengan kata kehilangan.
Ada terlalu banyak hal yang mungkin belum selesai di antara mereka. Terlalu banyak rasa kecewa yang bahkan mungkin belum sempat dibicarakan baik-baik. Tapi di saat yang sama, hidup tiba-tiba selesai begitu aja sebelum semuanya benar-benar menemukan bentuk akhirnya.
Lalu di bagian akhir ceritanya malam itu, ada satu hal yang justru paling lama tertinggal di kepala saya.
Ia bilang suaminya adalah anak tunggal. Sudah tidak punya ayah dan ibu juga sejak lama. Dan entah kenapa waktu mendengar bagian itu, saya tiba-tiba mengerti kenapa setelah semua yang terjadi, ia dan keluarganya tetap memilih mengurus semuanya sampai selesai.
Dan jujur, di titik itu saya cukup lama diam. Karena mungkin tidak semua orang mampu melakukan hal seperti itu. Apalagi setelah semua cerita yang sebelumnya saya dengar malam itu.
Sebelum malam itu benar-benar selesai, saya sempat bilang satu hal ke dirinya.
Kalau suatu hari nanti anaknya sudah cukup besar untuk bertanya tentang ayahnya, saya berharap ia tidak perlu menceritakan semua luka yang pernah terjadi di dalam rumah tangga mereka.
Bukan karena apa yang terjadi itu harus dilupakan. Bagaimanapun juga, almarhum tetap ayah dari anaknya.
Dan mungkin ada beberapa hal yang memang lebih baik berhenti di generasi kita saja.
Biarkan anaknya mengenal ayahnya dari hal-hal baik yang masih layak untuk dikenang.
Tapi mungkin memang di situlah saya akhirnya benar-benar melihat seperti apa hati seseorang sebenarnya. Bahwa kadang kebaikan tidak selalu lahir dari keadaan yang baik. Kadang justru muncul dari orang-orang yang hidupnya sendiri sudah terlalu sering disakiti.
Dan semakin saya mengingat malam itu, semakin saya merasa kalau perempuan di depan saya ini bukan cuma seseorang yang sedang mencoba bertahan setelah kehilangan.
Ia dan keluarganya hanya memilih tetap menjadi manusia yang baik, bahkan ketika hidup tidak memperlakukan mereka dengan baik sebelumnya.
Epilog
Ketika saya selesai menulis series ini, saya semakin sadar kalau cerita yang saya tulis sebenarnya bukan cuma tentang kehilangan. Bukan juga cuma tentang rumah tangga yang perlahan hancur sebelum benar-benar selesai. Tapi, tentang bagaimana hidup kadang memaksa seseorang menjadi kuat jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan.
Tentang seseorang yang perlahan kehilangan rasa aman di rumahnya sendiri. Tentang seseorang yang tetap harus bertahan bahkan ketika hidupnya berubah terlalu cepat dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan tentang orang-orang yang tetap memilih tinggal, membantu, dan menjaga satu sama lain meski sebelumnya juga ikut disakiti oleh keadaan yang sama.
Mungkin itu yang paling tertinggal di kepala saya setelah semua cerita malam itu selesai.
Bahwa tidak semua orang yang terlihat tenang benar-benar menjalani hidup yang tenang. Ada yang tetap bisa tertawa, tetap datang ke tempat yang sama, tetap terlihat biasa aja di depan banyak orang, padahal hidupnya sendiri sedang berusaha disusun ulang pelan-pelan setiap hari.
Dan mungkin itu juga kenapa saya memberi judul series ini Kehilangan Yang Datang Lebih Awal.
Karena tidak semua kehilangan dimulai saat seseorang benar-benar pergi. Ada yang sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya. Saat rasa nyaman perlahan hilang dari rumah sendiri. Saat seseorang mulai merasa sendirian di dalam hubungannya. Atau saat hidup memaksa kita menerima kenyataan yang sebenarnya belum siap kita terima.
Tapi di balik semua itu, cerita ini juga membuat saya percaya kalau manusia bisa jauh lebih kuat dari yang terlihat.
Terkadang orang yang paling kuat bukan mereka yang terlihat paling keras bertahan. Tapi mereka yang setelah semua luka itu, masih memilih tetap menjadi manusia yang baik.
0 Comments