Tidak semua cerita harus megah. Yang sederhana pun bisa tinggal lebih lama di hati

– Aspi Yuwanda

#1 Kehilangan Yang Datang Lebih Awal: Malam Ketika Mulai Bercerita.

Sampai hari ini jika dilihat ke belakang, saya menulis tentang hal-hal yang dekat dengan hidup saya sendiri. Tentang apa yang saya pikirkan, saya rasakan, atau saya alami. Tapi tulisan kali ini sedikit berbeda. Yang akan saya tulis bukan benar-benar tentang hidup saya, melainkan tentang cerita seseorang yang saya kenal dan tanpa saya sadari malam itu ia mulai bercerita tentang sepotong bagian penting dihidupnya. Sejak malam itu, ceritanya terus tertinggal di kepala saya.

Series ini saya beri judul Kehilangan Yang Datang Lebih Awal. Karena semakin dipikir-pikir, tidak semua kehilangan dimulai saat seseorang benar-benar pergi. Ada yang sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya. Pelan-pelan. Hampir tidak terasa. Sampai akhirnya semuanya benar-benar habis dan orang baru sadar kalau ada sesuatu yang ternyata sudah lama hilang.

Malam itu sekitar pukul delapan malam. Seseorang yang belakangan cukup sering saya temui mulai bercerita tentang sepotong bagian penting di hidupnya. Kami beberapa kali berada di tempat yang sama, beberapa kali ngobrol tanpa pernah benar-benar masuk terlalu jauh ke urusan pribadi masing-masing. Ia juga bukan tipe orang yang banyak cerita tentang hidupnya. Justru selama ini saya mengenalnya sebagai seseorang yang terlihat sangat tenang menjalani semuanya.

Mungkin itu kenapa saya tidak benar-benar sadar kapan obrolan ringan malam itu perlahan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih personal.

Ia masih sempat tertawa kecil waktu obrolan masih ringan. Sesekali ikut nimbrung di percakapan yang sebenarnya mungkin besok juga sudah lupa. Sampai di satu titik ia tiba-tiba diam sebentar sambil muter pelan gelas di depannya sebelum akhirnya mulai cerita tentang hidupnya sendiri.

Kalimat demi kalimat keluar pelan. Tidak terburu-buru. Sesekali ia berhenti beberapa detik sebelum lanjut lagi seperti seseorang yang sedang memilih bagian mana yang sebaiknya diceritakan dan mana yang lebih baik tetap disimpan sendiri. Dan entah kenapa malam itu saya memilih untuk tidak banyak menyela.

Ada orang yang sebenarnya tidak butuh jawaban apa pun ketika bercerita. Lalu di tengah percakapan yang dari tadi berjalan pelan itu, ia bilang kalau suaminya meninggal ketika usia pernikahan masih setahunan.

Cara ia mengucapkannya tenang sekali. Terlalu tenang malah. Bukan seperti seseorang yang sedang mencoba membuat orang lain ikut merasa sedih. Justru terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu sering mengulang cerita yang sama sampai akhirnya lelah untuk terdengar hancur setiap kali membicarakannya lagi.

Saya sempat diam cukup lama setelah mendengar kalimat itu.

Dan sebelum saya sempat benar-benar merespons apa pun, ia kembali bicara pelan sambil melihat ke arah gelas di depannya.

“Anak saya waktu itu baru dua bulan.”

Setelah kalimat itu keluar, saya tidak langsung tahu harus menjawab apa. Ada beberapa cerita yang memang terlalu berat untuk buru-buru diberi respons. Apalagi ketika seseorang mengucapkannya dengan mata yang mulai sedikit berkaca-kaca, tapi di saat yang sama masih berusaha terlihat tenang di depan orang lain.

Malam masih berjalan seperti biasa setelah itu. Orang-orang masih sibuk dengan obrolannya masing-masing. Tapi entah kenapa sejak malam itu saya makin sadar kalau beberapa orang memang terlihat baik-baik saja bukan karena hidupnya benar-benar baik-baik saja, tapi karena mereka sudah terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendirian.

Dan malam itu ternyata bukan cuma cerita tentang seseorang yang kehilangan suaminya, tapi tentang seseorang yang kehilangan salah satu bagian penting dalam alur cerita hidupnya. Semakin lama ia bercerita, saya mulai sadar kalau ada banyak hal yang sebenarnya sudah selesai jauh sebelum kecelakaan itu datang. Tentang pernikahan yang berjalan terlalu cepat, tentang dua orang yang mungkin tidak pernah benar-benar siap hidup bersama, dan tentang rumah yang dari luar terlihat utuh padahal di dalamnya perlahan mulai habis sedikit demi sedikit.

"Bagian dari seri Kehilangan Datang Lebih Awal. Tentang kehilangan yang ternyata sudah dimulai jauh sebelum seseorang benar-benar pergi, dan tentang orang-orang yang perlahan kehilangan salah satu bagian penting dalam cerita hidupnya sendiri."

0 Comments