Ini adalah tulisan lanjutan dari series saya sebelumnya, Kehilangan Yang Datang Lebih Awal: Malam Ketika Ia Mulai Bercerita. Setelah malam itu selesai, saya mulai sadar kalau cerita yang saya dengarkan bukan cuma tentang seseorang yang kehilangan suaminya. Ada banyak hal yang ternyata sudah perlahan hilang jauh sebelum kecelakaan itu datang. Tentang pernikahan yang berjalan terlalu cepat, tentang dua orang yang mungkin tidak pernah benar-benar siap hidup bersama, dan tentang rumah yang dari luar terlihat baik-baik saja padahal di dalamnya perlahan mulai habis sedikit demi sedikit.
Ia bilang setelah menikah, suaminya berubah jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan. Emosinya mulai tidak stabil. Pertengkaran jadi semakin sering. Bahkan di beberapa momen, masalah kecil bisa berubah jadi pertengkaran besar tanpa alasan yang benar-benar jelas. Dan dari cara ia menceritakannya malam itu, saya bisa merasa kalau sebenarnya ia sendiri sampai sekarang masih belum benar-benar mengerti kapan semuanya mulai berubah jadi sejauh itu.
Ada rumah yang hancur bukan karena satu kejadian besar. Tapi karena terlalu banyak hal kecil yang dibiarkan menumpuk sampai akhirnya dua orang di dalamnya sama-sama lelah untuk memperbaiki apa pun lagi. Dan semakin lama ia bercerita malam itu, saya mulai sadar kalau hubungan mereka bukan cuma sedang bermasalah, tapi perlahan sudah berubah menjadi tempat yang melelahkan untuk ditinggali.
Ada satu bagian dari ceritanya malam itu yang sampai sekarang masih cukup tertinggal di kepala saya. Bukan tentang perselingkuhan. Bukan juga tentang bagaimana akhirnya suaminya meninggal. Tapi tentang satu kejadian yang menurut saya terasa jauh lebih sunyi dan menyakitkan dari semua itu.
Ia sempat diam cukup lama sebelum mulai menceritakan bagian itu. Matanya melihat ke arah luar cafe beberapa detik, lalu kembali menunduk sambil memainkan gelas di depannya. Saya juga tidak langsung bertanya apa-apa. Entah kenapa malam itu rasanya seperti semua cerita keluar bukan karena ia ingin mengingatnya lagi, tapi karena mungkin selama ini terlalu lama disimpan sendiri.
Ia bilang waktu itu usia kehamilannya sudah masuk sekitar tujuh bulan. Perutnya sudah besar. Badannya juga mulai gampang capek. Dan seperti kebanyakan perempuan hamil lainnya, di masa-masa itu bahkan bergerak terlalu banyak aja kadang sudah terasa melelahkan.
Malam itu suaminya pulang ke rumah lalu meminta sesuatu yang saat itu tidak bisa ia penuhi. Tapi bukannya mengerti, suaminya justru marah. Dan malam itu berakhir dengan dirinya dipukul dalam keadaan sedang hamil besar.
Saya sempat diam cukup lama setelah mendengar bagian itu. Entah kenapa di titik itu saya tidak langsung merasa marah. Justru yang pertama muncul malah rasa tidak habis pikir. Karena semakin dewasa, saya mulai sadar kalau ada banyak luka di dunia ini yang tidak terdengar keras ketika diceritakan. Tidak ada tangisan besar. Kadang cuma sebuah kalimat pendek yang diucapkan dengan nada datar oleh seseorang yang mungkin sudah terlalu lelah untuk kembali merasa hancur.
Ia juga tidak menangis waktu menceritakan bagian itu. Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat. Karena beberapa orang akhirnya sampai di titik di mana mereka tidak lagi menceritakan luka dengan emosi, tapi dengan rasa lelah.
Saya tidak tahu rumah tangga seperti apa yang sebenarnya mereka jalani waktu itu. Tapi malam itu saya cukup lama berpikir, bagaimana mungkin seseorang bisa melupakan bahwa perempuan di depannya sedang membawa anaknya sendiri.
"Bagian dari seri Kehilangan Yang Datang Lebih Awal. Tentang rumah yang awalnya terlihat baik-baik saja dari luar, tapi perlahan berubah menjadi tempat yang melelahkan untuk ditinggali. Tentang pertengkaran kecil yang terus menumpuk, tentang seseorang yang mulai kehilangan rasa aman di rumahnya sendiri, dan tentang luka yang ternyata tidak selalu datang dengan suara yang keras."
0 Comments