Manifesto Merawat Ingatan

– Catatan Tentang Waktu, Perjalanan, dan Berbagai Hal yang Tidak Ingin Saya Lupakan -

Gunung Luhur - 1.750 MDPL. Langkah Pertama.


Pendakian ke Gunung Luhur ini sebenarnya bukan rencana yang dibuat secara mendadak. Sekitar satu bulan sebelumnya, saya dan beberapa teman kantor sudah beberapa kali membahasnya. Mulai dari menentukan tanggal, mengatur kendaraan, hingga memastikan siapa saja yang benar-benar bisa ikut. Semuanya berjalan seperti rencana pendakian pada umumnya, sampai sekitar satu minggu sebelum keberangkatan, istri saya tiba-tiba mengatakan bahwa ia ingin ikut.

Saya cukup terkejut. Selama ini ia belum pernah mendaki gunung. Reaksi pertama saya pun bukan langsung mengiyakan. Yang ada di kepala justru berbagai pertanyaan. Apakah ia akan kuat berjalan? Bagaimana jika cuaca tidak bersahabat? Apakah pendakian pertamanya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, atau justru membuatnya enggan mengulanginya lagi?

Mungkin keraguan itu muncul karena selama bertahun-tahun, gunung selalu menjadi cerita yang saya bawa pulang. Tentang jalur yang panjang, dinginnya dini hari, dan matahari yang perlahan muncul dari balik pegunungan. Ia selalu mendengarkan cerita-cerita itu, tetapi tidak pernah benar-benar berada di dalamnya. Kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, kami akan berjalan di jalur yang sama.

Gunung Luhur bukanlah gunung tertinggi yang pernah saya datangi. Justru sebaliknya, inilah gunung dengan ketinggian paling rendah yang pernah saya daki sejauh ini. Jalurnya pun tidak sepanjang pendakian-pendakian sebelumnya. Karena itulah saya merasa tempat ini menjadi pilihan yang tepat untuk pendakian pertamanya. Rasanya, pendakian pertama tidak perlu tentang seberapa tinggi sebuah gunung, melainkan tentang meninggalkan pengalaman yang cukup baik hingga membuat seseorang ingin kembali.

Perjalanan dimulai sekitar pukul sebelas malam dari Jakarta. Kami memilih menggunakan sepeda motor, membelah jalanan yang perlahan berubah wajah. Lampu-lampu kota yang masih ramai berganti dengan jalan kampung yang semakin sempit, berlubang, dan sesekali terasa begitu sepi. Sekitar tiga setengah jam kemudian, kami akhirnya tiba di area basecamp Gunung Luhur.

Karena memilih melakukan pendakian tektok, kami memutuskan menyewa satu kamar vila untuk beristirahat. Tas dibongkar untuk memastikan kembali barang bawaan, registrasi pendakian diselesaikan, lalu kami memanfaatkan sisa waktu untuk tidur beberapa saat sebelum perjalanan yang sesungguhnya dimulai.

Gerbang pendakian dibuka tepat pukul empat pagi. Sekitar sepuluh menit kemudian, kami mulai melangkah meninggalkan basecamp, ditemani udara yang masih dingin dan langit yang belum sepenuhnya terang.

Saya tidak akan banyak bercerita tentang jalur pendakian Gunung Luhur. Bagi saya, karakternya cukup standar, khas pegunungan dengan ketinggian di bawah 2.000 mdpl. Bahkan, jika harus membandingkan, jalurnya mengingatkan saya pada jalur Gunung Prau via Patak Banteng di kawasan Dieng. Anak tangga yang mendominasi awal pendakian menjadi tantangan utama, sementara sisanya terasa cukup familiar bagi saya.

Yang justru menarik untuk diceritakan adalah pengalaman istri saya. Belum sampai satu kilometer berjalan, napasnya sudah mulai terengah-engah. Anak tangga yang terus muncul seolah tidak ada habisnya membuat kami beberapa kali berhenti untuk mengambil jeda.

Di sela-sela beberapa kali berhenti, kami lebih banyak mengobrol daripada diam. Saya bercerita tentang pendakian-pendakian pertama yang pernah saya lalui. Tentang bagaimana dulu saya juga sering kehabisan napas, bertanya-tanya kapan tanjakan akan berakhir, dan merasa ingin segera sampai tanpa benar-benar menikmati perjalanan.

Saya mengatakan kepadanya bahwa hampir semua orang yang baru pertama kali mendaki akan merasakan hal yang sama. Kelelahan adalah sesuatu yang wajar. Yang terpenting bukan berjalan cepat, melainkan tetap melangkah. Tidak perlu memikirkan seberapa jauh puncak masih menunggu, cukup fokus pada satu langkah berikutnya. Lama-kelamaan, tanpa terasa, tujuan itu akan semakin dekat.

Sejak awal pendakian, saya mengaktifkan fitur pelacak aktivitas di jam tangan dan merekam perjalanan melalui Strava. Setiap kali kami berhenti untuk mengambil napas, saya sesekali melirik data yang terekam. Elevasi yang berhasil kami capai ternyata baru bertambah beberapa puluh meter. Rasanya seperti sudah berjalan sangat jauh, padahal gunung baru saja dimulai.

Saya hanya tersenyum melihatnya. Barangkali memang seperti itulah pengalaman mendaki untuk pertama kalinya. Setiap tanjakan terasa lebih panjang, setiap anak tangga terasa lebih tinggi, dan setiap jeda seolah menjadi kebutuhan. Saya pernah berada di posisi itu, sehingga saya paham bahwa tubuh hanya sedang berusaha beradaptasi dengan sesuatu yang benar-benar baru.

Sekitar empat jam kemudian, tepatnya sekitar pukul delapan lewat tiga puluh pagi, kami akhirnya tiba di titik tertinggi Gunung Luhur, di ketinggian 1.750 mdpl. Angka yang mungkin tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain yang pernah saya datangi. Bahkan, jika dibandingkan dengan area camp terakhir di Gunung Kerinci, ketinggian ini masih berada di bawahnya. Titik awal pendakian di Dieng pun sudah lebih tinggi dari sini.

Namun, berdiri di sana membuat saya kembali mengingat bahwa gunung memang tidak pernah benar-benar bisa diukur dari angka yang tertera di papan ketinggian. Bukan soal seberapa tinggi puncaknya, melainkan seberapa besar usaha yang harus dikeluarkan untuk mencapainya. Bagi seseorang yang baru pertama kali mendaki, 1.750 mdpl bisa terasa sama berharganya dengan ribuan meter lainnya.

Hari itu, saya tidak sedang mengejar angka ketinggian. Saya hanya senang melihat istri saya berhasil menyelesaikan pendakian pertamanya.

Kami tidak berlama-lama di puncak. Tidak ada selebrasi yang berlebihan. Kami hanya saling mengucapkan selamat, mengambil beberapa foto sebagai penanda, lalu duduk sejenak menikmati bekal sambil bercerita tentang perjalanan yang baru saja kami lalui. Anak tangga yang terasa tidak ada habisnya, rasa lelah yang berkali-kali memaksa berhenti, hingga perjalanan yang pada akhirnya berhasil kami selesaikan bersama.

Tak lama kemudian, kami memutuskan untuk turun. Jalur yang beberapa jam sebelumnya terasa berat kini justru terasa jauh lebih bersahabat. Menjelang pukul sebelas siang, kami sudah kembali tiba di vila. Pendakian itu selesai, tetapi rasanya cerita yang kami bawa pulang baru saja dimulai.

Jika melihat catatan di Strava, kami membutuhkan waktu sekitar 4 jam 15 menit untuk mencapai puncak, dan sekitar 1 jam 50 menit untuk kembali turun ke basecamp. Angka-angka itu mungkin hanya menjadi data bagi sebagian orang. Namun bagi saya, ada satu hal yang tidak pernah tercatat oleh perangkat apa pun: kesabaran.

Di setiap pendakian, saya selalu memegang satu prinsip yang sama: kuat sampai puncak, pulang dengan selamat. Kalimat itu selalu saya pegang, karena mencapai puncak bukanlah akhir dari perjalanan. Masih ada perjalanan turun yang sama pentingnya untuk diselesaikan.

Pendakian kali ini menambah satu pelajaran baru. Ketika orang yang berjalan bersama adalah istri sendiri, saya belajar bahwa mendaki bukan hanya soal tenaga, tetapi juga tentang menemani. Menyesuaikan langkah, berhenti ketika diperlukan, memberikan semangat di saat napas mulai terengah, dan memastikan perjalanan itu tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Kalau boleh dihitung-hitung, mungkin sekitar 99% tenaga yang saya keluarkan hari itu adalah... kesabaran. Untungnya, kesabaran memang tidak pernah membuat ransel terasa lebih berat.

Recharge Kuota Sabar🤣

Beberapa jam setelah tiba di rumah, kami kembali membicarakan hal-hal kecil yang terjadi selama pendakian hari itu. Tentang anak tangga yang seolah tidak ada habisnya, beberapa kali berhenti untuk mengatur napas, hingga rasa lelah yang perlahan berubah menjadi cerita. Lalu saya bertanya kepadanya, "Kapok atau mau lagi?"

Jawabannya ternyata tidak jauh dari yang sudah saya duga. Sambil tertawa, ia menjawab, "Kalau treknya landai, mau lagi." Saya ikut tertawa mendengarnya. Dalam hati saya berpikir, memangnya ada gunung yang jalurnya benar-benar landai dari awal sampai akhir?

Meski begitu, jawaban itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Artinya, pendakian pertamanya tidak meninggalkan kesan yang buruk. Saya pun langsung memberikan usul, kalau memang masih ingin mencoba lagi, mungkin lain waktu kami bisa mendaki Gunung Prau melalui jalur Patak Banteng. Karakter jalurnya kurang lebih mirip dengan Gunung Luhur, tetapi pemandangan yang ditawarkan jauh berbeda. Terlebih lagi, saya sendiri masih ingin kembali ke sana. Pendakian terakhir saya ke Prau pada Desember tahun lalu tidak begitu beruntung karena sepanjang perjalanan hanya ditemani kabut tebal.

Siapa tahu, pendakian ke Gunung Luhur ini bukan menjadi yang pertama sekaligus terakhir. Mungkin, ini hanya langkah pertama dari perjalanan-perjalanan lain yang akan kami ceritakan di kemudian hari.

Terimakasih


Baca juga cerita pendakian saya lainnya disini 👉 Trekking Journals

0 Comments