Manifesto Merawat Ingatan

– Catatan Tentang Waktu, Perjalanan, dan Berbagai Hal yang Tidak Ingin Saya Lupakan -

Satu Kalimat, Dua Kata.

Saya pikir manusia terlalu sering menaruh ekspektasi berlebihan pada waktu. Seolah dengan berjalannya waktu, semuanya otomatis akan membaik. Seolah segala sesuatu perlahan akan memperbaiki dirinya sendiri hanya karena sudah cukup lama ada.

Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.

Sampai hari ini, ada hal-hal yang rasanya masih seperti proses membangun pondasi, bukan tinggal di sesuatu yang sudah benar-benar selesai dibangun. Dari luar mungkin terlihat baik-baik saja. Cukup stabil. Seolah semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Tapi yang ada di dalam, beberapa bagiannya masih belum benar-benar kuat. Kadang tenang. Kadang goyah karena hal-hal yang, kalau dipikir sekarang, sebenarnya mungkin tidak perlu sampai sebesar itu.

Lalu di tengah semua itu, hadir satu manusia kecil yang membawa jenis ketenangan yang berbeda. Bukan karena semua persoalan mendadak hilang. Dan tentu bukan karena saya tiba-tiba berubah jadi pribadi yang jauh lebih baik. Itu klaim yang sangat berlebihan. Tapi setidaknya, ada hal-hal yang dulu terasa begitu penting, perlahan tidak lagi terasa layak untuk terus diperdebatkan.

Meski hidup tampaknya selalu punya caranya sendiri untuk mengingatkan kalau tidak semua hal benar-benar sudah selesai. Tetap ada fase ketika keadaan kembali panas. Karena sesuatu yang, bahkan sampai sekarang, masih terasa sulit untuk diterima begitu saja.

Kalau ada satu hal yang cukup konsisten sepanjang semua ini, mungkin ya saya. Dalam arti yang tidak terlalu membanggakan.

Karena kalau harapannya waktu akan secara ajaib mengubah saya jadi seseorang yang lebih baik, lebih dewasa, lebih sabar, seseorang yang tahu persis kapan harus bicara dan kapan sebaiknya diam, rasanya itu sedikit terlalu optimistis.

Respon yang beberapa kali seharusnya bisa lebih baik, tetap terjadi. Sering tanpa sadar meletakkan sesuatu di tempat yang seharusnya tidak perlu ikut menanggung semuanya.

Kalau mau ditelaah lebih jauh, kesimpulannya mungkin tidak akan terlalu mengejutkan. Tidak banyak yang benar-benar berubah. Tapi mungkin harapannya memang sesederhana itu. Bahwa seiring bertambah besarnya manusia kecil itu, pondasi yang selama ini terus dicoba perkuat ini perlahan benar-benar menjadi sesuatu yang lebih kokoh.

Sampai hari ini semuanya masih tetap berjalan, saya rasa itu bukan karena saya tiba-tiba berubah jadi seseorang yang jauh lebih mudah untuk dipertahankan. Mungkin justru karena tingkat toleransi yang nyatanya jauh di atas standar normal.

Jadi, apalagi yang bisa dikatakan selain terima kasih untuk semuanya? Rasanya tidak ada kata yang lebih tepat dari itu.

Terima Kasih.

Jakarta, 5 Juni 2026

0 Comments