Tahun ini, bulan Juni lalu terasa begitu hangat karena kami merayakan lima tahun pernikahan. Rasanya seperti kembali ke awal, ketika semuanya masih dipenuhi rasa penasaran, tawa yang sederhana, dan keyakinan bahwa perjalanan ini layak untuk terus dijalani bersama. Juni juga selalu menjadi bulan yang istimewa karena bertepatan dengan hari lahir istri saya. Mungkin itu sebabnya bulan ini selalu memiliki tempat tersendiri bagi kami.
Sebenarnya perjalanan ini tidak pernah benar-benar direncanakan. Saat itu kami sedang mengunjungi Pekan Raya Jakarta. Setelah lelah berkeliling, kami duduk di pelataran sambil menikmati minuman dingin dan membiarkan keramaian berlalu begitu saja. Di tengah obrolan yang biasa itulah saya tiba-tiba berkata kepada istri, "Minggu depan kita ke Jogja, yuk." Kalimat yang keluar tanpa banyak pertimbangan itu justru menjadi awal dari salah satu perjalanan paling berkesan yang kami lakukan tahun ini.
Seperti perjalanan spontan pada umumnya, kami sempat maju mundur. Jadi berangkat atau tidak, membawa anak atau tidak, semuanya berubah-ubah sampai beberapa hari menjelang keberangkatan. Ketika akhirnya kami benar-benar memutuskan untuk pergi, tiket kereta langsung menuju Yogyakarta sudah habis. Rasanya seperti semesta sedang menguji seberapa besar kami benar-benar ingin berangkat.
Untungnya, saya tidak langsung menyerah. Kami memutuskan berangkat lebih dulu menuju Cirebon, tiba sekitar pukul satu dini hari, lalu beristirahat di sebuah penginapan yang letaknya hanya beberapa langkah dari stasiun. Keesokan paginya, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta pertama menuju Yogyakarta. Memang sedikit memutar, tetapi justru perjalanan itulah yang membuat semuanya terasa lebih berkesan. Kadang, cerita terbaik memang lahir dari rencana yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Sesampainya di Yogyakarta, kami memilih menginap di kawasan selatan, dekat dengan pantai. Tidak ada daftar tempat wisata yang harus didatangi atau jadwal yang harus dikejar. Kami hanya ingin menikmati waktu tanpa terburu-buru, berjalan ke pantai menjelang sore, lalu duduk bersama menyaksikan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Kami bahkan menyewa seorang fotografer untuk mengabadikan momen sederhana itu. Mungkin beberapa tahun lagi, ketika kami sudah lupa bagaimana rasanya sore itu, foto-foto ini akan membantu kami mengingatnya kembali. Barangkali memang seperti itulah cara kami merawat ingatan.
Di balik semua kebahagiaan itu, ada sedikit penyesalan yang ikut kami bawa. Untuk pertama kalinya sejak anak kami lahir, kami bepergian berdua dan meninggalkannya di Jakarta bersama mertua saya. Keputusan itu sudah dipikirkan bersama, tetapi beberapa kali kami tetap membayangkan bagaimana jika ia ikut berlari di atas pasir, mengejar ombak kecil, atau sekadar duduk menikmati senja bersama kami. Mungkin perjalanan berikutnya akan menjadi giliran kami bertiga.
Saya sempat berpikir Juni akan selesai di Yogyakarta. Ternyata belum. Bulan itu masih menyimpan satu perjalanan lagi.
Seminggu setelahnya, kami kembali membuat kenangan baru. Kali ini bukan di tepi pantai, melainkan di jalur pendakian Gunung Luhur. Menariknya, ini menjadi pengalaman pertama istri saya mendaki gunung. Selama bertahun-tahun, gunung selalu menjadi cerita yang saya bawa pulang untuk diceritakan kepadanya. Tentang jalur yang panjang, dinginnya dini hari, dan matahari yang perlahan muncul dari balik pegunungan. Kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, kami berjalan di jalur yang sama.
Saya tidak akan mengulang cerita pendakian itu di sini karena rasanya perjalanan tersebut pantas memiliki ceritanya sendiri. Namun, jika ada satu hal yang paling saya bawa pulang, mungkin bukan soal puncaknya, melainkan tentang berjalan bersama. Saya belajar bahwa perjalanan tidak selalu harus ditempuh dengan langkah yang cepat. Ada kalanya kita perlu memperlambat langkah, berhenti sejenak, saling menunggu, lalu melanjutkan perjalanan ketika keduanya sama-sama siap.
Ketika mengingat kembali bulan Juni lalu, semuanya terasa seperti rangkaian cerita yang saling menyambung. Merayakan lima tahun pernikahan, melakukan perjalanan yang lahir dari keputusan spontan, menikmati senja di tepi pantai, lalu menapaki jalur pendakian untuk pertama kalinya bersama. Tidak ada yang benar-benar luar biasa jika dilihat satu per satu, tetapi ketika semuanya dirangkai menjadi satu, Juni terasa begitu penuh.
Mungkin itulah alasan mengapa saya memilih menyebutnya June in Bloom. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi sempurna, melainkan karena banyak hal yang kembali tumbuh pada waktunya. Rasa syukur, semangat untuk kembali bepergian, keberanian untuk mengambil keputusan secara spontan, dan keyakinan bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana.
![]() |
-Five Years Down, Forever to Go- |
Lima tahun pernikahan ternyata bukan tentang mempertahankan semuanya agar tetap sama. Justru sebaliknya, kami belajar untuk terus bertumbuh, menerima perubahan, dan menemukan cara-cara baru untuk menikmati perjalanan yang sudah kami pilih bersama. Juni tahun ini kembali mengingatkan saya bahwa, baik di tepi pantai maupun di jalur pendakian, perjalanan yang paling berarti bukan tentang siapa yang berjalan lebih cepat, melainkan tentang tetap saling menemani hingga tujuan berikutnya.
Juni tahun ini kembali mengajarkan banyak hal. Tentang perjalanan, tentang kebersamaan, dan tentang menemukan kebahagiaan dalam hal-hal yang sederhana. Sisanya, biarlah tetap menjadi cerita yang kami simpan untuk dikenang.
Merayakan lima tahun kebersamaan.
Love you, always. And always loving you.

0 Comments