Yep, sudah satu setengah bulan sejak tulisan saya terakhir, Jangankan menulis sebuah tulisan baru, membuka blog hanya untuk melihat berapa orang yang membacanya dalam tujuh hari terakhir, seperti yang biasanya saya lakukan setiap kali membuka dashboard statistik saja, saya sudah lupa kapan terakhir kali melakukannya. Tapi, malam ini berbeda. Jam sudah menunjukkan lewat pukul 1 dini hari, dan saya akan menulis tulisan ini.
Beberapa jam yang lalu, sekitar pukul 11 malam, hari sebelumya, saya baru tiba di rumah sepulang kerja. Saya masuk kamar seperti biasanya, untuk memberi tahu istri dan anak bahwa saya sudah pulang. Tidak ada yang terasa berbeda, sampai anak saya memberikan sebuah kotak kacamata kepada saya.
Saya buka kotak itu tanpa berpikir macam-macam. Tapi, ternyata, isinya membuat saya kaget, haru, dan terdiam sejenak. Di dalamnya ada sebuah test pack dari istri saya.
Dua Garis Kecil.
Saya tidak langsung berkata apa-apa. Rasanya seperti ada begitu banyak hal yang tiba-tiba muncul di kepala dalam waktu yang bersamaan, sementara saya hanya bisa melihat benda kecil itu beberapa saat. Di satu sisi saya bahagia, sangat bahagia, tapi di sisi lain ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa hidup kami akan kembali berubah.
Anak kedua.
Berbeda dengan lima tahun yang lalu, ketika istri saya pertama kali menunjukkan test pack dan memberi tahu bahwa kami akan memiliki anak, saat itu rasanya seperti dunia berhenti sejenak. Kami saling menatap cukup lama, mungkin karena kami sama-sama tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ya, itu adalah pengalaman pertama kami, dan ada begitu banyak hal yang tiba-tiba terasa nyata dalam satu waktu.
Kali ini tidak seperti itu. Beberapa hari sebelumnya, istri saya memang sempat mengeluh sakit perut dan merasa mual seharian, tetapi semuanya berlalu setelah satu hari. Jujur saja, beberapa minggu belakangan saya sedang sangat sibuk dengan pekerjaan, jadi saya menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja dan tidak terlalu memikirkannya.
Padahal, kalau dipikir-pikir lagi sekarang, apa yang dialaminya memang bisa saja menjadi salah satu tanda-tanda kehamilan. Tapi, saat itu saya tidak berpikir sejauh itu. Mungkin karena saya terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau mungkin karena setelah lima tahun menjadi orang tua, saya sudah tidak lagi terlalu peka terhadap tanda-tanda kecil seperti itu.
Sampai akhirnya, sebuah kotak kacamata kecil diberikan kepada saya oleh anak pertama kami. Dan di dalamnya ada jawaban dari semua hal yang sebelumnya tidak pernah saya terpikirkan.
Anak saya juga, kalau saya ingat-ingat lagi, memang terlihat sedikit berbeda dalam dua minggu belakangan ini. Karakternya memang dari dulu kalau menginginkan sesuatu harus ada saat itu juga, dan biasanya cukup sulit untuk ditunda. Tapi, ada satu hari ketika sesuatu yang dia inginkan mengharuskan saya ada di sana, sementara saya belum pulang ke rumah.
Hari itu dia tetap kekeuh ingin mendapatkannya dan terus meminta saya untuk datang. Saya tetap tidak bisa saat itu. Sampai akhirnya ketika malam saya tiba di rumah malam itu, dia sudah tidur.
Waktu itu saya menganggapnya sebagai kejadian biasa. Anak kecil ingin sesuatu, ayahnya sedang tidak bisa, lalu selesai. Tidak ada yang saya pikirkan lebih jauh dari itu.
Tapi, setelah saya melihat test pack itu, entah kenapa kejadian beberapa hari sebelumnya tiba-tiba kembali terlintas di kepala saya. Mungkin memang hanya kebetulan, atau mungkin juga ada sesuatu yang saya lewatkan. Saya tidak tahu.
Yang saya tahu, untuk pertama kalinya saya melihat semua kejadian kecil beberapa minggu terakhir dengan cara yang berbeda.
Anak saya saat ini sudah hampir berusia empat setengah tahun. Jika semuanya berjalan lancar, nanti ia dan adiknya akan memiliki jarak usia lima tahun lebih. Menurut saya, jarak ini cukup ideal, karena ketika adiknya lahir nanti, kakaknya sudah cukup besar untuk mengerti bahwa akan ada satu lagi manusia kecil yang hadir dan menjadi bagian dari keluarga kami.
Saya membayangkan akan seperti apa hubungan mereka nantinya. Mungkin mereka akan memiliki karakter yang sangat berbeda, mungkin juga akan sering bertengkar karena hal-hal kecil seperti yang biasa terjadi di antara saudara. Tapi, di luar semua itu, saya berharap mereka akan tumbuh dengan memiliki satu sama lain, saling menjaga, dan tahu bahwa di rumah ini akan selalu ada tempat untuk mereka berdua.
Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dalam lima tahun ke depan, anak pertama saya akan tumbuh semakin besar, sementara adiknya baru akan memulai kehidupannya. Rumah ini juga akan ikut berubah bersama mereka, dengan dua manusia kecil yang akan membawa cerita, kebiasaan, dan warna mereka masing-masing.
Saya membayangkan rumah beberapa tahun dari sekarang. Akan ada dua suara kecil yang memanggil saya, dua karakter yang mungkin sangat berbeda, dua anak yang masing-masing akan membawa cerita mereka sendiri. Dan di antara semua perubahan itu, mungkin hal yang paling membuat saya bahagia adalah mengetahui bahwa mereka akan memiliki satu sama lain.
Rumah ini akan berbeda. Keluarga ini juga akan berbeda. Akan bertambah satu manusia kecil di dalam rumah ini, yang nantinya akan menjadi bagian dari kehidupan kami dan tentu saja menjadi satu lagi tanggung jawab yang harus saya jalankan sebagai seorang ayah.
Dan saya siap untuk itu.
Saya adalah kepala dari keluarga ini. Bukan hanya sebagai seseorang yang bertanggung jawab untuk memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, tetapi juga sebagai orang yang harus berdiri paling depan ketika keluarga ini membutuhkan tempat untuk bersandar.
Empat setengah tahun lalu, ketika anak pertama kami lahir, saya mungkin belum sepenuhnya mengerti apa arti dari tanggung jawab itu. Saya hanya menjalani hari demi hari, belajar dari banyak kesalahan, sambil perlahan memahami bahwa menjadi seorang ayah bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam satu malam.
Sekarang saya akan kembali belajar. Bedanya, kali ini saya sudah tahu sedikit tentang apa yang akan datang, meskipun saya juga tahu bahwa setiap anak membawa cerita dan tantangannya sendiri.
Akan ada lebih banyak yang harus saya jaga. Lebih banyak yang harus saya pikirkan. Mungkin akan ada lebih banyak malam ketika saya merasa lelah, lebih banyak keputusan yang harus dibuat, dan lebih banyak hal yang mungkin tidak berjalan seperti yang saya rencanakan.
Tapi, bukankah memang begitu seharusnya sebuah keluarga tumbuh?
Bukan hanya jumlah orang di dalamnya yang bertambah, tetapi juga tanggung jawab, kesabaran, dan kemampuan kita untuk saling menjaga. Rumah mungkin akan menjadi lebih ramai, lebih berantakan, dan mungkin juga lebih melelahkan, tetapi saya percaya ada kebahagiaan baru yang juga sedang menunggu di dalam semua itu.
Untuk Afi, anakku.
Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang kakak. Mungkin sekarang kamu belum benar-benar mengerti apa artinya memiliki seorang adik, tapi nanti kamu akan tahu bahwa ada satu manusia kecil yang akan tumbuh bersamamu, yang mungkin suatu hari akan mengganggumu, meminjam barang-barangmu, atau bahkan merebut perhatian Papap dan Mama.
Tapi, Papap punya satu harapan untukmu. Jadilah kakak yang bisa membimbing dan menjaga adikmu, yang bisa menjaganya ketika ia membutuhkanmu, dan menjadi tempat yang bisa ia percaya ketika kami tidak ada di dekatnya. Tidak harus selalu mengalah, tidak harus selalu benar, karena kamu juga tetap anak kami yang harus kami jaga dan sayangi.
Papap hanya ingin kamu tahu bahwa kehadiran adikmu nanti tidak akan pernah mengurangi sedikit pun rasa sayang Papap dan Mama kepadamu. Justru kamu akan mendapatkan seseorang yang akan menemanimu melewati sebagian panjang perjalanan hidupmu. Mungkin suatu hari nanti, ketika Papap dan Mama sudah tidak sekuat sekarang, kalian berdua yang akan saling menjaga.
Untuk istriku, saya hanya berharap kamu selalu sehat sampai nanti tiba waktunya untuk membawa dia ke dunia ini. Jaga diri baik-baik, seperti kamu selalu menjaga keluarga kecil kita selama ini. Saya tahu perjalanan beberapa bulan ke depan tidak akan selalu mudah, tapi saya akan selalu ada di sini, menemani kamu melewatinya.
Untuk kita berdua, semoga semua yang sudah kita lalui bersama dalam membesarkan anak pertama kita menjadi pengalaman yang berharga. Lima tahun terakhir mungkin tidak selalu berjalan sempurna, tapi dari sanalah kita belajar menjadi orang tua, belajar memahami anak, dan belajar memahami satu sama lain.
Kali ini, semoga semua pengalaman itu membuat kita sedikit lebih siap untuk menyambut seseorang yang baru. Bukan berarti kita sudah tahu semuanya, karena saya rasa menjadi orang tua memang tidak pernah benar-benar membuat kita merasa siap. Kita hanya belajar, menjalani, dan berharap bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.
Dua garis kecil, yang membawa begitu banyak arti.
Untuk kamu, anak kedua kami, kami belum tahu kapan tepatnya kita akan bertemu. Tapi kami tahu, sejak dua garis itu muncul, kami sudah mulai menghitung hari untuk bertemu denganmu.
Papap and Mama are waiting for you. Can't wait.

0 Comments