Sebenarnya saya jarang benar-benar memperhatikan musik apa yang saya dengarkan sepanjang tahun. Lagu-lagu itu biasanya hadir begitu saja, dan tahun ke tahun nyaris selalu sama. Bukan karena tidak mencoba yang baru, tapi karena ada rasa nyaman di lagu-lagu yang itu-itu saja. Diputar saat bekerja, saat di perjalanan, atau ketika rumah sudah mulai sepi dan hari perlahan turun nadanya. Konon katanya, lagu yang sering kita dengar mencerminkan perasaan kita. Benar demikian atau tidak, saya pun tidak terlalu memperhatikannya. Musik tidak saya dengarkan untuk dicari maknanya. Ia hanya menjadi latar yang menemani aktivitas, tanpa perlu dipikirkan terlalu jauh.
Spotify Wrapped kemudian datang sebagai pengingat. Bukan tentang selera, bukan pula soal daftar siapa paling sering diputar. Ia seperti cermin kecil yang memperlihatkan kebiasaan yang tidak pernah benar-benar saya sadari. Tentang lagu apa yang saya ulang tanpa sengaja, tentang suara apa yang paling sering menemani hari-hari yang berjalan pelan, dan tentang bagaimana musik, diam-diam, ikut tinggal di keseharian saya sepanjang tahun ini.
Tahun ini, Adhitia Sofyan kembali berada di posisi teratas. Namanya memang selalu muncul di daftar artis yang paling sering saya dengarkan dari tahun ke tahun. Lagu-lagunya seperti punya tempat tetap, tidak pernah benar-benar pergi, dan tidak perlu dicari. Menariknya, baru di tahun ini saya bertemu dengannya secara tidak sengaja. Ketika itu, saya bercerita cukup banyak mengenai lagu-lagunya yang selama ini saya dengarkan. Percakapan berjalan sederhana. Tidak ada momen besar yang perlu dirayakan. Rasanya seperti mempertemukan suara yang selama ini menemani, dengan orang di baliknya.
Disusul John Mayer, The Rain, Bon Jovi, dan Secondhand Serenade. Nama-nama yang tidak asing dan hampir setiap tahun muncul di daftar saya. Lagu-lagu yang tidak menuntut banyak perhatian. Mereka tidak datang untuk menghibur secara berlebihan. Lebih sering hadir sebagai latar. Menemani, bukan menguasai.
Daftar lagu teratas pun bercerita hal yang sama. Always, Sweet Marie, In These Arms, Bed of Roses, Sadrah. Lagu-lagu yang saya putar berulang, bukan karena ingin merasakan sesuatu yang baru, tapi karena ingin berada di rasa yang sudah saya kenal. Ada kenyamanan di situ. Tidak banyak kejutan, tapi cukup untuk membuat hari berjalan.
Lebih dari dua puluh empat ribu menit saya habiskan bersama musik sepanjang tahun ini. Angkanya terdengar besar, tapi rasanya biasa saja. Karena sebagian besar musik itu tidak saya dengarkan dengan sadar. Ia hanya ada. Mengisi ruang-ruang kosong di antara pekerjaan, perjalanan, dan waktu diam.
Mungkin memang begitu peran musik buat saya sekarang. Bukan untuk dirayakan. Bukan untuk mengartikannya terlalu jauh. Cukup sebagai teman jalan. Menemani hari-hari yang berjalan dengan tanpa banyak perlu diberi nama.


0 Comments