Tidak semua cerita harus megah. Yang sederhana pun bisa tinggal lebih lama di hati

– Aspi Yuwanda

Pendakian Gunung Prau - 2.590 MDPL. Berselimut Kabut di Akhir Desember.

Puncak Prau - 2.590 MDPL.


Banyak orang memulai pengalaman mendaki gunung dengan Gunung Prau. Jalurnya pendek, treknya jelas, dan ketinggiannya tidak terlalu menuntut. Gunung yang sering disebut ramah untuk pemula. Memulai pendakian di 2.100an mdpl dan puncaknya dengan ketinggian sekitar 2.590 mdpl, secara teknis bahkan setara dengan beberapa campsite di gunung-gunung 3 ribuan mdpl. Bulan Desember ini, saya mencobanya.

Pendakian berlangsung tanggal 25 sampai 26 Desember lalu. Saya bersama seorang teman, ikut open trip. Tidak ada alasan yang rumit. Saya hanya ingin menutup tahun ini dengan mendaki. 

Kami naik via Patak Banteng. Dari basecamp, kami diantar ojek sampai pos 1. Setelah itu mulai trekking  menuju area Sunrise Camp, tempat kami akan bermalam.

Dari pos 1 ke campsite jaraknya kurang lebih empat kilometer. Kami menghabiskan waktu sekitar tiga jam empat puluh lima menit, dengan ritme pelan, seperti biasanya. Jalur yang kami lewati adalah jalur baru dari pos 2 ke pos 3. Banyak anak tangga buatan. Terasa menanjak, tapi diselingi cukup banyak bagian landai. Di kepala saya, jalur ini mengingatkan pada Sindoro via Kledung dari pos 2 ke pos 3, hanya saja dengan versi yang lebih landai.

Berfoto di depan Landmark Ikonik Gunung Prau via Patak Banteng

Cuaca sejak awal tidak terlalu bersahabat. Hujan dan kabut tebal datang bersamaan. Di satu titik hujan turun cukup deras, membuat saya berhenti sebentar untuk mengambil rain coat dari carrier. Setelah itu berjalan lagi, dengan langkah yang lebih pelan. Tidak ada yang perlu dipercepat.

Saya tiba di campsite dengan kabut yang semakin rapat. Gerimis seperti tidak berniat berhenti. Sekitar pukul delapan, hujan turun lebih deras. Setelah makan malam. saya langsung tidur, karena tidak ada hal yang bisa dilakukan selain tidur dimalam itu.

Pukul empat pagi saya bangun dengan niat ingin melihat matahari terbit. Namun, kabut masih tebal meski hujan sudah berhenti. Udara dingin sekali. Dingin yang membuat badan enggan bergerak terlalu cepat. Tapi pagi sudah datang, dan saya tetap bersiap.

Sekitar setengah enam saya mulai berjalan ke puncak. Perjalanannya sekitar empat puluh menit. Kabut masih menggantung. Tebal. Matahari belum benar-benar terlihat, hanya terasa dari cahaya yang pelan-pelan berubah. Beberapa menit setelah saya tiba, alam seperti memberi jeda singkat. Kabut berpindah. Pandangan terbuka sebentar. Samudera awan muncul, lalu perlahan ditutup kembali. Tidak lama. Cukup untuk diingat.

Saya turun kembali ke campsite dengan waktu yang hampir sama. Sekitar pukul tujuh pagi saya sudah sampai. Makan, packing barang, bersiap turun. Tidak terburu-buru. Sekitar pukul delapan lewat tiga puluh saya mulai berjalan.

Jalur turun saya lewatkan lewat jalur lama dari pos 3 ke pos 2. Lebih curam. Tangga bebatuan terasa licin karena hujan semalaman. Langkah harus lebih hati-hati. Sekitar satu jam kemudian saya sampai di warung di antara pos 1 dan pos 2. Istirahat sejenak. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke pos 1, naik ojek kembali ke basecamp. Sekitar pukul sepuluh pagi saya sudah sampai.

Gunung Prau memang bukan gunung yang sulit. Tapi perjalanan ini mengingatkan saya bahwa tidak semua pendakian harus memberi pemandangan sempurna. Cukup berjalan di tengah kabut, basah, dingin dan pelan-pelan saja. Menerima apa yang sempat diperlihatkan, meski hanya sebentar. Yang terpenting, kembali pulang dengan selamat.

Suatu hari nanti, saya akan kembali ke sini. Bukan untuk menuntut apa pun. Hanya untuk melihat pagi dengan cara yang lain.

Where to go, next ?

Untuk sekarang, rencana itu masih kosong. Saya belum tahu akan ke mana melangkah setelah ini. Dan rasanya tidak perlu buru-buru mencari jawabannya. Pendakian ke Prau datang dengan cara yang kurang lebih sama. Tiba-tiba saja terpikir, padahal sebelumnya saya merasa tiga pendakian di tahun ini sudah cukup. Tidak ada daftar tujuan. Tidak ada hitungan gunung berikutnya. Saya hanya mengikuti rasa yang muncul. Kalau nanti ada gunung lain yang ingin didatangi, biarlah itu datang dengan sendirinya. Kalau belum, saya tidak sedang merasa tertinggal apa-apa.

Tulisan pendakian kali ini terasa berbeda dari tulisan-tulisan pendakian saya sebelumnya. Bukan karena perjalanannya kurang berarti, tapi karena memang tidak banyak hal yang saya ceritakan. Secara teknis, pendakian Gunung Prau sudah sangat sering dibahas di banyak tempat. Saya hanya ingin lebih menceritakan pengalamannya saja, tanpa perlu menambahkan terlalu banyak detail yang sebenarnya sudah tersedia di mana-mana.

“Tidak semua pendakian harus memberi pemandangan, beberapa cukup memberi pengalaman.”

Area Puncak

Terimakasih Sudah Membaca
Salam

Aspi Yuwanda
Jakarta, 27 Desember 2025



Baca juga cerita pendakian saya lainnya disini 
👉 Trekking Journals

0 Comments